SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MUSIK KERONCONG, MUSIK RAKYAT ASLI INDONESIA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MUSIK KERONCONG, MUSIK RAKYAT ASLI INDONESIA

Masa pendudukan Portugis ke pulau Jawa bermula pada abad ke 12, di Pelabuhan Marunda – Sunda Kelapa. Mereka juga membawa cikal-bakal musik ...

Selasa, 15 Maret 2016

SURAT EDARAN DPP PDI PERJUANGAN, WUJUD MATINYA DEMOKRASI DAN KEKAWATIRAN YANG BERLEBIHAN..

UUD 45 menjamin warga negara, bebas betserikat dan mengemukakan pendapat, begitu juga AD/ART PDI Perjuangan.. PDI Perjuamgan sebagai parpol yg terdepan mengusung pilar demokrasi, sdh seharusnya membuka selebar lebarnya pintu kebebasan kader/aktivis dan kontituen untuk berekspresi dan mengemukakan pendapat dan sikap politiknya.. Jangan dikit dikit dilarang, apalagi dengan alasan dan argumentasi Mencegah "Kegaduhan". Ingat rekam jejak dan perjalanan perjuangan partai (diperjuangkan dng darah dan air mata)... Ketika orde baru membungkam demokrasi, hasilnya rakyat malah melawan.. Janganlah jadi rezim otoriter, semua serba diatur dan semua serba dilarang.. Jadi pemimpin jangan cuma bisa melarang, harus juga bisa mendengar dan menyerap aspirasi.. Sehingga yg timbul dinamika politik.. Bukan kekawatiran dan ketakutan politik.. Di era reformasi, sdh tdk laku lagi pemaksaan dan serba intruksi.. Yg harus patuh dan taat dng AD/ART partai, bukan hanya bawahan.. Pimpinanpun harus patuh dan taat.. Jangan seperti Gubernur Ahok, yg bilang PNS tdk boleh "Berpolitik", tapi dia sibuk Loby-loby politik..!!!. Apalagi "Srigala berbulu domba".

Jakarta, 15 maret 2016.

Cepy Budi Mulyawan
(Aktivis dan Kader Nasional PDI Perjuangan)

Senin, 14 Maret 2016

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MUSIK KERONCONG, MUSIK RAKYAT ASLI INDONESIA

Masa pendudukan Portugis ke pulau Jawa bermula pada abad ke 12, di Pelabuhan Marunda – Sunda Kelapa. Mereka juga membawa cikal-bakal musik keroncong pada abad ke 16, pada saat masuknya Belanda ke Indonesia dan menguasai Malaka (Ade Soekino, 1995, Pangeran Jayakarta: 2). Pada abad ke 16 inilah, bangsa Portugis membawa pengaruh fado ke Indonesia. Fado merupakan tradisi tutur dalam bermusik di Portugis. Biasanya mengenai perjalanan mengarungi lautan, kemiskinan dan seperti musik rakyat kebanyakan adalah mengenai kesedihan. Berawal dari jatuhnya Malaka dari Portugis ke tangan Belanda pada tahun 1648, budaya bermusik dari Portugis dibawa oleh para turunan Moor, Bengali, Malabar dan Goa (India), mereka adalah budak-budak Portugis, yang banyak berasal dari Maluku yang ditawan di Batavia pada masa itu. Pada tahun 1661 mereka dibebaskan, pada tahun itu dimukimkan di sekitar rawa-rawa daerah Cilincing, atau Kampoeng Toegoe. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan berburu, di waktu-waktu senggang mereka memainkan musik dan bernyanyi dengan khas berirama lambat diiringi rajao (gitar kecil berdawai lima), biola, gitar, cello, dua jenis ukulele (cak dan cuk), rebana dan suling. Bisa dibilang, bahwa catatan awal mengenai sejarah lahir dan berkembangnya keroncong, adalah hasil percampuran budaya bermusik para budak yang dibawa Portugis dan budaya Indonesia. Percampuran budaya bermusik ini, awalnya disebut moresco. Moresco/Moresko merupakan musik dengan tarian dari bangsa atau kaum Moor/Moorish (kaum muslim berasal dari Moro, yakni orang kulit hitam yang berasal dari Pantai Utara Afrika) yang tinggal di Portugis. Tarian Moresko sendiri sudah melekat sejak 500 tahun yang lalu (Ensiklopedi Jakarta, Culture & Heritage, Hal. 135). Ada pula lafal lain yakni Morisca, namun Morisca lebih cenderung untuk menyebut nama jenis gitar yang ada pada kaum Moorish ini, yakni gitar berbentuk oval dan memiliki banyak lubang (sebab, alat musik ini membawa pengaruh Arabia yang berasal dari kaum Moorish yang berketurunan Arab). Kaum Moor ini masuk di benua Eropa pada abad 15, dan masuk ke Indonesia pada abad 16 lewat bangsa Portugis. Aslinya musik Kaum Moor bernama Moresco ini dimainkan untuk mengiringi tarian anggar antara hulubalang Kristen dan hulubalang Muslim dengan irama ‘tripel’, cenderung ‘mars’ (Remy Sylado, 2005, 9 Oktober 1740: 189) Dan dalam kenyataannya, awalnya Moresco adalah tarian yang menceritakan tentang Perang Salib antara Muslim dan Nasrani pada budaya bangsa Moor/Moro sendiri. Pada abad ke 19 musik ini berubah secara pelafalannya sesuai lidah orang Indonesia, menjadi Keroncong. Alasannya sederhana, “Karena musik ini berbunyi creng-crong.” Ada pula yang menyebutkan bahwa asal mula nama Keroncong berasal dari suara kerincing Rebana. Pendapat masyarakat ini bisa benar, bisa juga tidak. Dalam buku Ensiklopedi Jakarta mengenai Keroncong menyebutkan bahwa asal mula ‘keroncong’ berasal dari Bahasa Portugis yakni jukulele (ukulele) dalam Bahasa Portugis disebut dengan nama croucho, yang artinya kecil (untuk menyebut ukulele sebagai gitar dengan ukuran kecil). Keunikan Keroncong salah satunya adalah dari bunyi cak, cuk dan cello. Cak dan cuk-lah khas dari Keroncong ini dengan suara creng-crongnya, cak dan cuk pula yang merupakan evolusi dari croucho ini. Lalu khas keroncong pun ditambah dengan cello (selo) 3 senar gut-nya, dimainkan oleh orang Indonesia dengan cara dipetik, tidak digesek seperti biola, konon mengapa cello dipetik karena orang Indonesia tidak mengerti cara memainkan selo, walaupun pada kenyataannya selo pun bisa dimainkan dengan dipetik. Alat-alat musik yang disebutkan tadi berbaur dengan budaya lokal Indonesia, selain dimainkan dengan biola dan sebagainya, biasanya musik ini dimainkan dengan sitar dan gamelan lalu dinyanyikan dengan lagu-lagu bernuansa tradisional Jawa yakni Langgam Jawa. Dengan kata lain Keroncong berbaur menjadi musik rakyat baru di Indonesia atau “mempribumikan” musik ini dengan menambahkan unsur tradisional Indonesia. Selain Langgam Jawa, Keroncong pun memakai alat musik seperti: sitar India, rebab, suling bambu, gendang, kenong, dan saron. Sejarah Keroncong di Kampung Tugu dan Kampung Bandan (Kampung Bandan sekarang adalah Kecamatan Pademangan di Tanjung Priok). Sekitar tahun 1610 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mengalahkan Pangeran Jayakarta dan tahun 1621 menaklukkan Pulau Banda, tawanan-tawanan asal Pulau Banda ini adalah dijadikan budak lalu dikirim ke Kampung Tugu dan Kampung Brandan di Batavia, di kawasan itu terkenal sebagai tempat penampungan budak-budak asal Maluku dari Pulau Banda (Muhadjir, 2000, Bahasa Betawi : Sejarah dan Perkembangannya: 44). Lagu keroncong Portugis atau Keroncong Moresco yang pertama populer di masa itu adalah Prounga. Lagu ini sangat disenangi penduduk Kampung Bandan, jenis Keroncong seperti Prounga ini akhirnya disebut sebagai Keroncong Bandan. Prounga adalah jenis Keroncong rohani yang biasa dinyanyikan di Gereja saat itu. Sayangnya litertur tentang jenis musik keroncong di masa awal terbentuk atau terciptanya musik ini masih sangat minim. Pada tahun 1673, mereka para keturunan Portugis ini berpindah ke daerah Cilincing. Di sana mereka mendirikan Gereja Tugu, sesuai nama kampungnya Kampung Tugu. Dari sanalah kita kini mengenal kesenian musik yang bernama Keroncong Tugu. Lagu-lagu Keroncong pada saat itu di antaranya: Keroncong Tugu, Keroncong Kaparino dan Nina Bobo (Muhadjir, 2000, Bahasa Betawi : Sejarah dan Perkembangannya: 45). Dalam catatan yang ada di Wikipedia.org, modernisasi Keroncong bermula pada 1960-an, Keroncong disulap menjadi tradisi populer kaum muda-mudi di Indonesia. Musik ini dikawinkan dengan alat musik modern seperti gitar elektrik, keyboard dan drum. Modernisasi Keroncong era 1960-an ini di Indonesia dan Belanda sendiri sudah tidak asing lagi dengan nama Wieteke Van Dort yang membawakan Keroncong dengan gaya modern, salah satu lagunya yang terkenal adalah Geef Mij Maar Nasi Goreng. Adaptasi Keroncong dengan Langgam Jawa, berkembang pesat pada tahun 1950an. Penyanyi Keroncong dengan Langgam Jawa yang terkenal di tahun itu seperti Waldjinah. Langgam Jawa ini khas memakai sitar, saron dan kendang. Biasanya bila kendang tidak tersedia peran cello menggantikan peranan suara kendang dalam Langgam Jawa. Di hari ini, keroncong, masih tetap lestari. Baik masih menjadi tontonan yang berkelas di gedung-gedung pertunjukan atau pun di jalanan. 

SEJARAH KERONCONG DAPAT DIBAGI DALAM 3 (TIGA) TAHAP YAITU 
1. KERONCONG TEMPO DOELOE; 
2. KERONCONG ABADI; dan 
3. KERONCONG MODERN. 

KERONCONG TEMPO DOELOE (1880-1920)
Berlangsung sejak kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia sekitar tahun 1600-an tetapi baru berkembang sebagai Musik Keroncong pada akhir Abad XIX (ditemukan Ukulele di Hawai pada tahun 18791 hingga sekitar setelah Perang Dunia I (sekitar 1920). Pada waktu itu disebut dengan lagu-lagu Stamboel: Stamboel I, Stamboel II, dan Stamboel III dengan standar lagu panjang 16 birama. Contoh lagu Stb I Potong Padi, Padi, Stb I Nina Bobo, Stb I Soleram, dsb.; contoh lagu Stb II Jali-jali, Stb II Si Jampang, dsb.; dan contoh lagu Stb III Kemayoran (hanya ini yang ada). Masa ini Keroncong berkembang sejak dari desa Toegoe (Cilincing Jakarta sekarang), kemudian hijrah ke Kemayoran dan Gambir, sehingga tidak heran kalau cengkok dan irama menjadi cepat dan lincah. Banyak kelompok musik pada masa ini (seperti Lief Indie) yang memainkan lagu stamboel selain komedi stamboel itu sendiri.

KERONCONG ABADI (1920 – 1959)
Berlangsung sejak setelah Perang Dunia I (1920) hingga setelah Kemerdekaan (1959). Pada waktu hotel-hotel di Indonesia dibangun seperti Hotel Savoy Homan dan Hotel Preanger di Bandung, jaringan Grand Hotel di Cirebon, Yogyakarta, Sala, Madiun, Malang, dsb., di mana pada hotel-hotel tersebut diadakan musik dansa, maka lagu Keroncong mengikuti musik dansa asal Amerika, terutama dengan panjang 32 birama (Chorus: Verse-Verse-Bridge-Verse atau A-A-B-A). Pada masa ini dikenal dengan 3 jenis Keroncong, yaitu: Langgam Keroncong, Stambul keroncong, dan Keroncong Asli. Contoh lagu Lg Bengawan Solo, Lg Tirtonadi, Lg Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Lg Solo Di Waktu Malam; Stb Rindu Malam, Stb Jauh Di Mata, Stb Dewa-Dewi; Kr Purbakala, Kr Sapulidi, Kr Moresko. Pada waktu itu juga lahir Langgam Jawa: Yen Ing Tawang(1935). Pada perjalanan juga menjadi terkenal oleh penyanyi Waljinah (1963). Pada masa ini Keroncong berpindah ke Solo, sehingga dengan irama yang lebih lambat dan lemah gemulai. Pada Pekan Raya (Yaar Beurs) di Solo penyanyi legendarisnya adalah Miss Any Landauw dan Abdullah, sedangkan pemain biola legendaris asal Betawi adalah M. Sagi. 

KERONCONG MODERN (1959-sekarang).
Pada tahun 1959 Yayasan Tetap Segar Jakarta pimpinan Brigjen Sofyar memperkenalkan ke Keroncong Pop atau Keroncong Beat, yaitu sejalan dengan perkembangan musik pop pada waktu itu dengan pengaruh rock ‘n roll dan Beatles. Lagu-lagu Indonesia, Daerah maupun Barat diiringi dengan Keroncong Beat. Misalnya Na Sonang Dohita Nadua (Batak), Ayam Den Lapeh (Padang), Pileuleuyan (Sunda), dsb, Pada tahun sekitar 1968 di daerah Gunung Kidul Yogyakarta musisi Manthous memperkenalkan apa yang disebut campursari, yaitu keroncong dengan gamelan dan kendang. Selain itu juga dipakai instrumen elektronik seperti bass guitar, electric bass, organ, sampai juga dengan saxophon dan trompet. Musisi yang gencar memainkan Campursari adalah Didi Kempot: Stasiun Balapan, Tanjung Emas, Terminal Tirtonadi, dsb. Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Pem-“pribumi”-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti 1. sitar India 2. rebab 3. suling bambu 4. gendang, 5. kenong, 6. dan saron sebagai satu set gamelan Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup 1. ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; 2. ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F); 3. gitar akustik (Ukulele dan Gitar menggatikan Sitar); 4. biola (menggantikan Rebab); 5. flut (mengantikan Suling Bambu); 6. selo; 7. kontrabas (menggantikan Gong)2 Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan kontrabas. Gitar dan selo mengatur peralihan akord. Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen. Flut mengisi hiasan, yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong. Bentuk keroncong yang dicampur dengan musik populer sekarang menggunakan organ serta synthesizer untuk mengiringi lagu keroncong. Musik keroncong lebih condong pada progresi akord dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta adaptasi. Dahulu sebelum Perang Dunia I (1910), musik keroncong dikenal dengan nama Stambul, diambil dari Komedi Stambul Keliling yang menyuguhkan lagu-lagu keroncong. Ciri dari Lagu Stambul adalah panjang 16 birama. Catatan: banyak orang menyebut Keroncong Kemayoran, yang sebenarnya Stambul III Kemayoran Setelah Perang Dunia I (1910) dengan adanya inflitrasi lagu pop (akibat adanya pembangunan hotel-hotel di Indonesia tahun 1920-an seperti Hotel Savoy di Bandung, di mana hotel tersebut sering mengadakan musik dansa, sehingga musik keroncong saat itu juga dipengaruhi oleh lagu2 pop barat dg struktur panjang 32-birama: A-A-B-A), maka dikenal:  Langgam Keroncong (32 birama), misalnya: Lg Bengawan Solo, Lg Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dsb.  Stambul Keroncong (16 birama x 2 = 32 birama), misalnya St Jauh Di Mata, St Dewa Dewi . dsb.  Keroncong Asli (32 birama dg Prelude sebanyak 4 birama dan Interlude sebanyak 4 birama), misalnya Kr Sapu Lidi, Kr Purbakala, dsb. Ciri dari Lagu Keroncong ini adalah panjang 32 birama. Ada perbedaan Lagu Stambu; dengan Lagu Keronong; yang pertama dengan Pantun, sedangkan yang kedua dengan Syair. Keroncong asli memiliki bentuk lagu A – B – C. Lagu terdiri atas 8 baris, 8 baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka dengan Prelude 4 birama yang dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi Interlude standar sebanyak 4 birama yang dimainkan secara instrumental juga. Keroncong asli terkadang juga diawali oleh prospel terlebih dahulu. Prospel adalah seperti intro yang mengarah ke nada/akord awal lagu, yang dilakukan oleh alat musik melodi seperti seruling/flut, biola, atau gitar. Langgam Keroncong Bentuk lagu langgam ada dua versi. Yang pertama A – A – B – A dengan pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar pop: Verse A – Verse A – Bridge B – Verse A, panjang 32 birama. Beda sedikit pada versi kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan. Penyanyi serba bisa Hetty Koes Endang misalnya, dia sering merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam menggunakan irama yang sama, dan kebanyakan tetap dinamakan langgam. Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa, yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa yang pertama adalah Yen Ing Tawang (Tawang suatu desa di Magetan) ciptaan Anjar Any (1935). Langgam Jawa memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh. Tahun 1980 Langgam Jawa berkembang menjadi Campursari. Stambul Keroncong Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama “stambul” diambil dari Istambul di Turki. Stambul memiliki tiga tipe progresi akord yang masing-masing disebut sebagai Stambul I, Stambul II dan Stambul III. Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang3. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki “Buaya Keroncong” oleh insan keroncong Indonesia,sebutan untuk pakar musik keroncong.

Rabu, 15 April 2015

PGN HARUS JELASKAN KE PUBLIK ADANYA DUGAAN KERUGIAN NEGARA PADA PROYEK FSRU LAMPUNG


Proyek pembangunan FSRU Lampung yang telah menghabiskan investasi berkisar USD 300 JUTA yang dilakukan oleh PGN terindikasi merugikan keuangan negara karena proyek tersebut sekarang tidak beroperasi karena ketidak jelasan rencana bisnis dari proyek tersebut. Bahwa rencana awal proyek ini untuk memenuhi kebutuhan gas di lampung dan jawa barat, ternyata saat ini tidak sesuai dengan rencana usaha bahkan berhenti operasi. Ini bentuk kegagalan direksi PGN yang mengabaikan unsur kehati2an dalam berinvestasi. Ketidak hati2an ini diduga telah menyebabkan kerugian keuangan negara jutaan dolar. Untuk sekedar bayar sewa kapal saja perhari, PGN harus keluarkan biaya sekitar USD 300.000 artinya setiap bulan sekitar USD 9 JUTA namun keberadaan proyek tersebut tidak menghasilkan apa2 kepada negara. Ini bentuk kelalaian direksi yang mengakibatkan kerugian negara dan ini masuk kategori Korupsi.

Direksi PGN harus menjelaskan ke publik tentang masalah ini, PGN jangan menutup nutupi kesalahan direksi atau menutupi perbuatan korupsi yang terjadi. Jika PGN merasa tidak ada masalah dalam proyek ini, sebaiknya direksi PGN segera membuka dan mengklarifikasi ke publik tentang dugaan kerugian negara yang nilainya sgt besar. Belum lagi kerugian negara pada pembelian saham Swift Energy olh Saka Energi anak petusahaan PGN pada Fasken Gas yg diduga mark up hingga 300 % dari nilai normalnya dan merugikan negara puluhan juta dolar.

CELGOR mendesak PGN untuk mengklarifikasi terbuka ke publik ttg masalah ini, sebab jika tidak, maka CELGOR akan melaporkan kasus ini ke KPK dalam waktu dekat.

Jakarta, 08 April 2015

BUDI MULYAWAN SH
DIREKTUR EKSEKUTIF CELGOR

Proyek pembangunan FSRU Lampung yang telah menghabiskan investasi berkisar USD 300 JUTA yang dilakukan oleh PGN terindikasi merugikan keuangan negara karena proyek tersebut sekarang tidak beroperasi karena ketidak jelasan rencana bisnis dari proyek tersebut. Bahwa rencana awal proyek ini untuk memenuhi kebutuhan gas di lampung dan jawa barat, ternyata saat ini tidak sesuai dengan rencana usaha bahkan berhenti operasi. Ini bentuk kegagalan direksi PGN yang mengabaikan unsur kehati2an dalam berinvestasi. Ketidak hati2an ini diduga telah menyebabkan kerugian keuangan negara jutaan dolar. Untuk sekedar bayar sewa kapal saja perhari, PGN harus keluarkan biaya sekitar USD 300.000 artinya setiap bulan sekitar USD 9 JUTA namun keberadaan proyek tersebut tidak menghasilkan apa2 kepada negara. Ini bentuk kelalaian direksi yang mengakibatkan kerugian negara dan ini masuk kategori Korupsi.

Direksi PGN harus menjelaskan ke publik tentang masalah ini, PGN jangan menutup nutupi kesalahan direksi atau menutupi perbuatan korupsi yang terjadi. Jika PGN merasa tidak ada masalah dalam proyek ini, sebaiknya direksi PGN segera membuka dan mengklarifikasi ke publik tentang dugaan kerugian negara yang nilainya sgt besar. Belum lagi kerugian negara pada pembelian saham Swift Energy olh Saka Energi anak petusahaan PGN pada Fasken Gas yg diduga mark up hingga 300 % dari nilai normalnya dan merugikan negara puluhan juta dolar.

CELGOR mendesak PGN untuk mengklarifikasi terbuka ke publik ttg masalah ini, sebab jika tidak, maka CELGOR akan melaporkan kasus ini ke KPK dalam waktu dekat.

Jakarta, 08 April 2015

BUDI MULYAWAN SH
DIREKTUR EKSEKUTIF CELGORAdanya Dugaan Kerugian Negara Pada PROYEK FSRU LAMPUNG CELGOR Akan Laporkan Direksi PGN ke KPK

Kamis, 05 April 2012

Masjid Saint Petersburg dan Kharisma Presiden Soekarno

Rusia, di bawah rezim komunis Uni Soviet membabat habis kehidupan beragama. Semua tempat ibadah seperti masjid, gereja, sinagog ditutup untuk kegiatan ibadah. Sebagian bangungan dialih fungsikan untuk berbagai keperluan rezim berkuasa. Sedang sebagian lagi dibiarkan lapuk tak terawat. Keadaan itu terjadi pada masjid di Saint Petersburg yang sejak 1940 hingga 1956 diubah menjadi gudang.

Ir. Soekarno & Nikita Krushcev


Saint Petersburg, adalah ibukota Rusia ketika masih berbentuk kekaisaran. Kota itu ketika era Uni Soviet bernama Leningrad (Lenin Gorad), nama yang dinisbatkan kepada bapak pendiri Uni Soviet, Vladimir Ilyisch Lenin. Saint Peterburg disebut sebut sebagai kota terindah di Eropa, dengan gedung-gedung berarsitektur menawan dan lanskap kota yang luar biasa. Salah satu bangunan indah di antara deretan arsitektur kota tersebut adalah bangunan masjidnya. salah satu masjid Saint Patesburg

Masjid indah ini dilengkapi dengan dua menara setinggi 49 meter lengkap dengan kubah setinggi 39 meter. Dengan kapasitas mencapai 5000 orang jamaah. Restorasi besar besaran di tahun 1980 membuat masjid ini mampu mempertahankan rekornya sebagai salah satu masjid terbesar di Eropa. Pemisahan antara jemaah pria dan wanita bukan dengan pemberian partisi di ruang yang sama, tapi dengan pemisahan tempat. Lantai dasar masjid diperuntukkan bagi jamaah pria sementara lantai satu masjid diperuntukkan khusus untuk jamaah wanita.

Masjid Saint Petersburg mulai digunakan pertama kali pada tahun 1913, menandai peringatan 300 tahun berkuasanya keluarga Romanov di Rusia meskipun kala itu pembangunan masjid belum selesai seratus persen. Keseluruhan proses pembangunan baru selesai tujuh tahun kemudian dan rencananya akan dibuka untuk umum secara reguler dalam menyelenggarakan kegiatan peribadatan pada tahun 1920. Runtuhnya kekuasan Tsar Rusia oleh Rezim Komunis Uni Soviet pada tahun 1917, kemudian menjadikan Masjid Saint Petersburg terbengkalai dan diubah fungsinya menjadi gudang penyimpanan perlengkapan medis dari tahun 1940 hingga tahun 1956.

Masjid Saint Petsburg


Masjid Saint Petersburg dan Kharisma Soekarno
Kala itu, Soekarno sedang menikmati indahnya kota St. Petersburg yang didirikan oleh Peter the Great pada abad 17. Kota yang senantiasa menjadi rebutan banyak negara dalam berbagai masa itu memang sangat cantik, berarsitektur ala Eropa Barat dan terletak di delta sungai Neva. Kota ini pernah menjadi ibukota kekaisaran Rusia selama dua ratus tahun. Disini pula berdiri istana-istana terkenal, seperti istana musim panas Peterhof, istana musim dingin Hermitage, benteng Peter and Paul serta landskap kota yang tidak kalah dengan kota mode Paris.

Dari dalam mobil itu, Soekarno sekelebatan melihat sebuah bangunan yang unik dan tidak ada duanya. Sopir diminta untuk kembali memutar jalan untuk melihat bangunan tersebut, namun bergeming. Tidak ada perintah untuk memutar apalagi berhenti. Pada zaman itu, di bawah pemerintahan komunis nyaris tidak ada kekuasaan dan kesempatan berdiskusi yang diberikan kepada seorang sopir.

“Bangunan apa tadi itu,” tanya sang Presiden.

“Itu dulunya sebuah masjid,” jawab sang pengemudi.

“Kalau dulu masjid, sekarang digunakan untuk apa?”

“Oh… hampir semua gereja dan masjid saat ini menjadi gudang atau semacamnya,” sahut sopir.

Pembicaraan sekilas tadi membuat Presiden Indonesia itu tidak nyenyak tidurnya. Ia terngiang-ngiang gedung berkubah biru dengan arsitek Asia tengah itu. Dindingnya sekilas terbuat dari batu yang dibuat secara khusus, dua menaranya menjulang tinggi bersaing dengan beberapa gereja yang tidak jauh dari situ sedangkan pelatarannya cukup luas. Dalam taksiran Soekarno, bangunan yang disebut masjid itu pastilah mampu menampung lebih dari 3000 muslim bersembahyang berjamaah.

Dalam suatu jamuan makan, Presiden melontarkan permintaan agar pada hari berikutnya diatur suatu kunjungan ke masjid yang dilihatnya. Namun aturan protokoler tidak memungkinkan karena acara yang disusun sudah sangat padat.

Setelah dua hari menikmati keindahan kota St. Petersburg yang saat itu masih bernama Leningrad, Soekarno terbang ke Moskow untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi guna membahas masa depan kerja sama bilateral dan berbagai posisi kunci dalam Perang Dingin yang terus memuncak. Kehangatan kedua pemerintahan memang sedang mencapai titik kulminasi, antara lain dengan pengiriman ribuan mahasiswa Indonesia yang kemudian dikenal dengan mahasiswa ikatan dinas (Mahid).

Dalam bincang-bincang di istana Kremlin itu sempat tersiar kabar suatu pembicaraan yang unik diantara kedua pemimpin bangsa. Tentunya, sang pengundang menginginkan agar Presiden Soekarno dapat menikmati liburannya di Leningrad bersama salah satu putrinya. Apalagi berbagai fasilitas papan atas telah disiapkan.

“Bagaimana kunjungan ke Leningrad tuan Presiden. Tentu sangat menyenangkan, bukan,”

Diluar dugaan Soekarno memberikan jawaban yang mengagetkan. “Rasanya saya belum pernah ke Leningrad,” ujarnya.

“Tuan Presiden memang pandai bertutur. Ada apa yang salah dengan Leningrad. Bukannya kemarin dua hari berjalan-jalan dengan sang puteri di sana.”

“Ya. Kami memang berada disana, tapi kami belum kesana.”

“Kenapa begitu?”

“Karena kami tidak pernah diberikan kesempatan untuk menengok bangunan yang disebut masjid biru.”

Kekecewaan berat menerpa sang pemimpin besar revolusi Indonesia itu ketika mengetahui kondisi masjid tersebut yang diperlakukan tidak selayaknya sebagai masjid tetapi sebagai gudang. Kekecewaan itulah yang kemudian disampaikan Presiden Soekarno kepada Presiden Uni Soviet Nikita Kruschev pada jamuan kenegaraan di Kremlin. Presiden Soekarno tidak sekedar mengharapkan Kruschev memfungsikan kembali Masjid Saint Petersburg melainkan mengharapkan pula agar masjid itu boleh digunakan oleh umat Islam Saint Petersburg untuk beribadah.

Permintaan Presiden Soekarno itu seperti mustahil dikabulkan oleh presiden Uni Soviet yang tegas menerapkan Marxisme dalam bernegara. Tapi anehnya, 10 hari setelah kepulangan RI Presiden Soekarno ke Indonesia, secara mengejutkan keluar perintah resmi dari Kremlin untuk memfungsikan kembali Masjid Saint Petersburg dan bahkan mengembalikan masjid itu kepada kaum muslimin tanpa syarat apa pun. Kado dari Presiden Soekarno itu sangat mengejutkan umat Islam Saint Petersburg, dan sejarah inilah yang kemudian menjadi sebuah kenangan manis yang abadi bagi Muslim Saint Petersburg hingga saat ini. Kharisma Bung Karno memang luar biasa, berhasil mengubah kebijakan pemerintah otoriter yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ideologisnya

Aktivitas Masjid Saint Petersburg
Di hari jum’at sebelum sholat jum’at dilaksanakan, dibacakan ayat ayat suci Al-qur’an. Khutbah disampaikan dalam dua bahasa, bahasa Tatar dan Bahasa Rusia. Tak hanya menyelenggarakan kegiatan peribadatan, Masjid Saint Petersburg juga menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan Islam terkemuka di Saint Petersburg.

Imam Masjid dan Mufti Saint Petersburg Cafer Nasibullahoglu mengatakan bahwa ketika masjid Saint Petersburg dibangun sudah ada 8000 orang muslim yang di kota itu dan sudah menjadi salah satu komunitas terbesar di Saint Petersburg kala itu. Bandingkan dengan saat ini, Muslim di kota Saint Petersburg sudah mencapai 700.000 jiwa dan masjid-masjid di kota ini sudah tak mampu lagi menampung jamaah yang membludak, dan sudah menjadi pemandangan umum bila jamaah sholat jum’at di kota ini dan di kota kota lain di Rusia senantisa meluber hingga ke jalan raya.


“Kini semua umat Islam di St. Petersburg sangat berterima kasih kepada almarhum Soekarno. Kami akan ingat jasa-jasanya.,” ujar mufti Ja’far Nasibullah yang sudah 31 tahun menjadi tulang punggung masjid. “Tanpa Soekarno mungkin masjid indah yang didirikan 1910 ini sudah hancur sebagaimana masjid dan gereja lainnya. Semoga Allah SWT memberikan surga tertinggi baginya,” doa sang Imam dengan mimik yang serius sambil mengangkat kedua tangannya.

Senin, 09 Mei 2011

DETIK-DETIK TERAKHIR SUKARNO

Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

“Pak, Pak, ini Ega…”

Senyap.

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

“Hatta.., kau di sini..?”

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”

Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.

Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

(Sumber : http://www.eramuslim.com)